Pada kesempatan kali ini, akan membahas mengenai buku yang ditulis
oleh Abu Hamid Al Ghazali (1058-1111), dan semua tulisan hampir semua akan
mengutip dan merujuk pada sebuah buku yang berjudu Ayyuhal Walad yang
mana oleh Penerbit Pustaka Hati diterjemahkan menjadi Wahai Santriku. Kemudian,
tulisan ini akan saya bagi menjadi delapan bagian yang terpisah sendiri-sendiri
sesuai tema pembahasan persis pada buku yang dikutip, diantaranya yaitu
Mukaddimah, mengamalkan pengetahuan, terjaga malam, makna kepatuhan, delapan
pelajaran hidup, pentingnya guru mursyid, menjadi sufi, dan delapan pesan Al
Ghazali kepada muridnya.
Baik langsung
saja, masuk ke bagian Mukaddimah. Sejarah buku ini ditulis yaitu ketika murid yang taat kepada gurunya yaitu Imam Al Ghazali
yang sudah menempuh dan mencurahkan segala pikiran dan tenaga untuk belajar,
mengikuti seluruh pengajian dan perkembangan keilmuan gurunya. Tuntas sudah
seluruh ilmu yang dia inginkan. Pernik-pernik pengetahuan yang amat susah
bahkan telah ia boyng kedalam dirinya. Semuanya sudah ia ungsikan ke memorinya.
Ia juga mencari kesempurnaan dalam keutamaan jiwanya. Ya, ia mencari
pengetahuan yang bisa memuaskan kebutuhan rohani dan jiwanya, agar menjadi
manusia yang lebih, yang utama, dan mempunyai interitas moral. Sampailah ia
pada dirinya sendiri. Ia mulai berfikir dan merenungi dirinya sendiri. Ia sadar,
sesungguhnya ada keinginan lain yang belum lunas dan selalu saja bergemuruh
dalam dirinya.
“Aku telah
mempelajari seluruh disiplin ilmu. Aku telah menghabiskan seluruh usiaku
untukbelajar dan mengumpulkan pengetahuan. Sekarang, sudah saatnya aku
mengetahui, mana dianatar ilmu-ilmu itu yang bermanfaat bagi masa depanku dan
memperhatikan nasib-nasibku di akhirat. Mana pula yang tidak ada gunanya bagiku
sehingga aku harus meninggalkanya. Bukankah dulu Nabi Muhammad SAW juga pernah
berdoa
“Ya Allah, aku
berlindung dari ilmu yang tidak berguna”, begitulah pikiran yang selalu
menjuntai dalam benak sang murid.
Kegelisahan kian
menjadi-jadi. Sang murid memeutuskan
menulis surat kepada gurunya, Imam Al Ghazali, semoga Allah memberi rahmat
kepadanya. Ya, apalagi kalau bukan untuk meminta fatwa dan ansihat dari gurunya
itu. Ia bertanya banyak hal kepada gurunya. Ia meminta nasihat dan doa. “Meski
guru telah menulis kitab Ihya Ulumuddin atau kiab-kitab lain yang telah
jelas menjawab semua kegelisahanku, tetapi aku ingin beliau menulis khusus
untukku. Aku ingin sebuah tulisan yang akan aku genggam hingga akhir hayatku
dan aku persembahkan seluruh usiaku untuk mengamalkanya, “tekad sang murid
begitu kuatnya”.
Karena itu, surat
yang akhirnya dibukukan ini merupakan sebuah jawaban sang Maha Guru, Imam Al Ghazali.
Beliau menjawab semua permintaan muridnyaitu dengan karya ini. Ya, inilah yang
ditulis Imam Al Ghazali untuk muridnya yang saya rasa masih relevan untuk
segenap insan.
Itulah cuplikan
mukaddimah dari buku Ayyuhal Walad, lanjut ke tema selanjutnya yaitu
mengamalkan ilmu pengetahuan.................

Tidak ada komentar:
Posting Komentar