A.
MENGENAL SOSOK K.H AHMAD DAHLAN
Kyai Haji Ahmad Dahlan merupakan pendiri dari organisasi
Muhammadiyah. Nama kecilnya adalah Muhammad Darwis. Ia dilahirkan di kampung
kauman yogyakarta [ada tahun 1285 H bertepatan dengan 1 Agustus 1868 M, sebagai
putra ke empat dari KH. Abu Bakar salah seorang dari 12 Khatib keraton masjid
Sultan atau masjid besar Yogyakarta. Ibunya bernama siti aminah atau lebih
dikenal dengan sebutan Nyai Abu Bakar.
Sebagai anak yang tumbuh dalam lingkungan para ulama,
Muhammad darwiis secara dini mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya sendiri.
Seperti kalian, sejak kecil Darwis sudah belajar membaca Al Quran. Di umur 8
tahun, Darwis sudah lancar membaca Al Quran dan sudah mengkhatamkan bacaanya
hingga 30 Juz.
Seaktu masih kanak-kanak,
darwis bergaul dengan kawan-kawan dan tetangganya. Dia terkenal sebagai anak
yang rajin, jujur, serta suka menolong. Disamping itu masa kanak-kanak darwis
menunjukan beberapa kelebihan dibanding anak-anak sebayanya, yaitu banyak akal,
kreatif, ulet, pandai memanfaatkan sesuatu, cerdas, selalu fokus dan tidak malu
bertanya hal yang belum diketahuinya. Darwis kecil juga senang bermain
layang-layang dan gasing, serta pintar membuat barang-barang kerajinan tangan
dan mainan sendiri, sehingga disukai oleh teman-temanya.
B. BELAJAR KE KOTA MAKKAH
Darwis sangat gemar belajar. Darwis belajar kepada
banyak kyai dan ulama bahkan ke negeri arab. Diusia 22 tahun, Muhammad Darwis
diutus oleh keluarganya untuk pergi menunaikan ibadah haji sambil memperdalam
ilmunya ditanah suci makkah pada tahun 1890.
Sepulang
dari makkah Muhmmad darwis berganti nama menjadi Ahmad dahlan. Ahmad dahlan
tetap gemar belajar dan gemar membaca buku. Karena kegemaran mempelajari ilmu
agam islam, ahmad dahlan sering menggantikan ayahnya untuk mengajar agama islam
kepada anak-anak dan bahkan kepada orang-orang yang lebih tua darinya. Akhirnya
ahmad dahlan
Mendapatkan julukan kyai karena kemampuan ilmu
agama tersebut.
Penghetahuan tentang agama islam yang mendalam
inilah yang membuat ahmad dahlan semakin peduli kepada rakyat jelata dan sangat
senang mengajari orang ilmu agama islam serta suka menolong oreang kesusahan.
C. MENDIRIKAN MUHAMMDIYAH
Pada tahun 1903 ahmad dahlan pergi haji ke makkah
untuk kedua kalinya dan melanjutkan jkembali pendalaman ilmu agamanya. Saat
belajar ahmad dahlan bertemu banyak ulama serta tokoh-tokoh dari nusantara
sendiri seperti K.H muhammad Khatib dari minangkabau, K.H Nawawi dari banten,
Kyai Mas Abdullah dari surabaya serta Kyai Faqih Maskumambang dari gresik.
Pertmuan
itu cukup penting bagi perkembangan pemikiran ahmad dahlan. Namun yang paling
utama adalah perjumpaanya dengan Rasyid Ridha seorang tokoh pembaharu islam
dari mesir yang memiliki kesamaan pandangan dengan ahmad dahlan dalam pemurnian
tauhid dan bukan keimaan secara taklid.
Sepulang
dari makkah untuk yang kedua itu ahmad dahlan mulai medirikan pondok untuk
murid-muridnya yang datang dari berbagai daerah seperti bantul, srandakan,
brosot, kulonprogo, pekalongan, batang, magelang, solo dan semarang.
ahmad
dahlan tidak membatasi pergaulanya. Pada tahun 1909, pada masa kebangkitan
nasioanal ahmad dahlan masuk perkumpulan boedi utomo. Perkumpulan budi utomo
didirikan di jakarta pada tanggal 20 mei 1908 oleh Dr. Wahidin sudiro Husodo.
ahmad dahlan memberikan pengathuan agama islam kepada pengurus budi utomo.\
selain itu, ahmad dahlan juga diminta mengajar
agama islam kepada para siswa Kwek school di jetis yogyakjarta, sebuah sekolah
umum untuk anak-anak kalangan menengah pribumi dan belandan, sekolah pamong praja
dimagelang dan lain-lain. ahmad dahlan juga mengajar dimadrasah Ibtidaiyah
diniyah islamiyah yang berliau dirikan.
Kepedulian
ahmad dahlan kepada anak-anak yang bersekolah tersebut membuat ahmad dahlan
bersedia mengajrkan agama islam di sekolah tersebut. Banyak siswa yang kemudian
tertarik dengan pengajaran ahmad dahlan. Beliau mempergunakan cara yang tidak
membosankan, senantiasa menarik, sabar, jujur dan dapat mengemong anak didiknya
bahkan ketika ahmad dahlan menjelaskan bahwa beliau mendirikan sekolah
masdrasah diniyah dirumah untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dan ilmu agama,
mereka pun tertarik untruk menjadi siswa.
Ahmad
Dahlan sadar bahwa usaha yang mulia ini harus dipertahankan, bahkan harus bisa
diteruskan oleh orang lain.sepeninggalnya nanti. Utnuk itu diperlukan sebua
organisasi, yaitu sekumpulan orang yang berkerja bersama-sama.
Ahmad
Dahlan mencari petunjuk Al Quran dan menemukan ayat Al Quran surat Ali Imran
Ayat 104.
Setelah berbagai pengalaman dan pergaulanya dengan
berbagai kalangan dan mantap hatinya karena membaca ayat diatas, akhirnya pada
tanggal 18 dhulhijah 1330 H bertepatan dengan tanggal 18 November 1912, dikota
jogjakarta Ahmad Dahlan mendeklarasikan berdirinya sebuah organisasi yang
diberi nama Muhammadiyah yang mengajak umat islam indonesia kembali beramal dan
beribadah menurut tuntunan Al Quran dan Al Hadist.
D. PESAN-PESAN K.H AHMAD dahlan
K.H Ahmad Dahlan wafat pada tanggal 23 Februari
1923 M bertepatan dengan tanggal 7 rajab 1340 H diusia 55 tahun dan dimakamkan dikarangkajen
jogja. Atas jasa-jasa dalam perjuanganya membangun bangsa dan negara melalui
dakwah amar maruf nahi munkar, pemerintah republik indonesia sebagai pahlawan
nasional sesuai dengan surat keputusan presiden No.657 tahun 1961.
Sebelum
wafat beliau berpesan kepada kader-kader sebagai berikut:
a. Aku titipkan Muhammadiyah
kepadamu dengan harapan Muhammadiyah dapat dipelihara dan dijaga
sebaik-baiknya.
b. Beramal dan berjuanglah dalam
Muhammadiyah, sebab Muhammadiyah adalah tempat beramal dan berjuang.
c. Berjuanglah dalam
Muhammadiyah dengan keikhlasan dan kesadaran yang akan menumbuhkan rasa
nikmatnya dalam beribadah dan beramal.
d. Muhammadiyah sekarang ini
lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah kamu bersekolah,
menuntut ilmu pengetahuan dimana saja. Jadilah guru, kembalilah kepada
Muhammadiyah, jadilah master, insinyur, dan lain-lainnya dan kembalilah kepada
Muhammadiyah.
e. Hidup-hidupilah Muhammadiyah,
jangan mencari hidup dalam Muhammadiyah.
Itulah sosok KH. Ahmad Dahlan.
Pribadi yang selalu hidup bahagia dalam kesederhanaan, karena seluruh hartanya
banyak beliau habiskan untuk berdakwah menegakkan agama islam. Di akhir
khayatnya pun beliau tidak meninggalkan apa-apa untuk diwariskan kepada
keluarganya. Namun, beliau telah meninggalkan warisan terbesar untuk umat islam
yang justru tidak akan pernah habis sampai sekarang yaitu Muhammadiyah.